Catat bagasi mu!!..

Beli melalui online
Rp 9000

Konter bandara
Rp 15000

Bayar hanya untuk yang Anda gunakan
Pesawat ringan = Bensin Hemat = Harga Hemat

email ini saya dapatkan dari AirAsia yang menawarkan potongan harga kalau anda membayar kelebihan bagasi anda secara online.. Langkah genius, pikir saya.. 15 kilo merupakan limit bagasi yang di terapkan kepada setiap penumpang.. kadang kalau saya sedang travelling, bawa oleh-olehnya aja bisa 15kiloan sendiri.. jadi saya pikir ngepas banget deh 15 kilo tuh.. pengen juga lebih, kalo nggak terlampau mahal.

Layanan bagasi tercatat AirAsia, terus terang saya juga masih belum jelas banget karena bacanya masih cepat, namanya juga peraturan baru.. kalo kecepetan bacanya bisa salah ngartiinnya..

Yah nanti kita lihat lagi lah dalam perjalanan kita, bulan mei, saya berencana menggunakan pesawat airasia, berapa sih total bagasi yang di bawa untuk 7 orang rombongan kami.. ??  Kena extra charge nggak yaa?

Musibah kawan saya

Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun...

"Tidaklah seorang muslim tertimpa kesulitan, penyakit,

kesusahan, kesedihan, gangguan dan dukacita bahkan sampai duri yang menusuknya kecuali Allah menjadikan itu semua sebagai penghapus dosa-dosanya" -HR Bukhari-

Diberitahukan kepada rekan-rekan, relasi dan klien bahwa pada hari Minggu, 6 April 2007 telah terjadi kebakaran hebat di kantor kami di Golden Plaza, Jl. RS. Fatmawati, Jakarta Selatan.

..Begitu isi email kawan saya, segera saya balas dan menawarkan bantuan.

Memang namanya musibah bisa terjadi pada siapa saja. Bisa juga terjadi pada saya ataupun keluarga saya

Idealnya bisnis mempunyai disaster plan. yaitu rencana bagaimana menanggulangi musibah. Sebenarnya inti dari rencana itu adalah mempersiapkan diri jikalau ada musibah seperti itu menimpa kita.

Bencana alam juga makin sering terjadi di negeri kita. Tapi apakah salah mempersiapkan segala sesuatunya?

Sewaktu saya masih menjadi pegawai, di building kami, ada yang namanya latihan kebakaran, tiap dua bulan kami di 'paksa' untuk bertindak kalau ada musibah kebakaran.

Gedungnya sih nggak benar-benar di bakar, hanya simulasi saja. Sirine di nyalakan, dan pemandu mengarahkan karyawan melalui speaker perusahaan. Kami menentukan titik 'meeting point' untuk tiap-tiap divisi. Karyawan di harapkan tahu dimana berkumpul setelah keluar gedung.

Kami pun memiliki BCP (Business Continuity Plan), lokasi lain kantor kita (masih di jakarta juga), kami memiliki segala peralatan untuk tetap bekerja kalau kita pindah kantor. Peralatan meliputi kursi, furniture, komputer, dll.. Data pun kami biasakan menaruh backupnya pada lokasi BCP ini setiap bulan. Jadi kita nggak ketinggalan informasi kalau pindah. Secara kasat mata terlihat BCP ini seperti mubazir, karena tidak kita benar-benar menggunakan lokasi ini untuk pekerjaan sehari-hari.

Tentunya kami belum pernah secara riil, memanfaatkan lokasi BCP ini secara full. karena kita belum pernah mengalami musibah kebakaran ini. Tapi ini mungkin bisa jadi pembelajaran buat kita, membuat suatu backup site yang bisa menjalankan bisnis kita kalau ada musibah menimpa kita. Buat yang bisnisnya masih kecil, mungkin kita bisa mulai memikirkan membuat kantor cabang yang bisa beroperasi seperti kantor pusat. Sekaligus memperluas bisnis...

Atau ada masukan lain?

Pelayanan Memble Teknologi Digital First Media

Sebelumnya sorry dulu nih, kalo agak nylekit. Keluarga saya sudah lama berlangganan kabelvision, dan suatu hari tagihan yang kami terima, berubah logo dan kop suratnya menjadi first media.

Ah mungkin ada merger, pikir saya.. atau juga, ganti nama untuk memperbaiki citra. Memang akhir-akhir ini juga saya suka melihat mobil First Media di jalan. Mungkin teknisi mereka yang sedang mengunjungi rumah klien-klien mereka.

Dan memang benar, seminggu setelah kami terima tagihan baru tsb, ada teknisi yang mengunjungi rumah kami. Mereka ingin memasang dekoder versi 'baru'  untuk di pasang di dua televisi kami.

Hari itu pun lewat, dan kami tidak ada masalah. Sampai akhirnya kami membutuhkan menambah unit dekoder. Istri saya lah yang mengajukan permintaan ke first media.. permintaannya adalah menambah dua unit lagi untuk unit bisnis kita. Permintaannya di tanggapi serius dan seluruh data-data yang di butuhkan sudah kami berikan.. Namun... dua minggu lewat, belum juga ada teknisi yang datang ke rumah kami. Memang kami akui kami larut dalam pekerjaan kami sehingga lupa untuk mem-follow-up dari request yang pernah kami buat.

Kami coba kembali untuk menghubungi First Media, ternyata Customer Service yang kami hubungi tidak dapat menemukan request kita yang dua minggu yang lalu.. raib di system??

Oke, kita nggak marah, kita ulangi lagi semua prosesnya, dengan customer service yang baru. Kami berikan data-datanya kembali, dan persyaratan untuk menambah tsb, kami penuhi. Kali ini kita mencoba untuk memfollow up setiap dua hari kerja. Namun setiap kali di telpon selalu di undur-undur waktu pemasangannya. Setiap kita hubungi customer service nya selalu mendapatkan orang baru, susah sekali rasanya meminta customer service yang sebelumnya menangani permintaan kami. Dan akhirnya setiap kali, kami harus menceritakan semua kronologis dari awal.

Dan akhirnya setelah dua minggu lagi (jadi total sebulan), datanglah teknisi yang kami tunggu-tunggu..dengan muka yang berseri-seri dan sangat ceria, kami izinkan teknisi mereka untuk memasang unit dekoder yang baru itu.

Teknisi mereka pun menjelaskan perlunya aktivasi unit dari pusat, jadi belum langsung bisa kami pakai. oke.. kami tunggu. "Tiga jam-an lagi deh pak, kata teknisinya".. ya, ya.. oke.

Selesai pemasangan sekitar jam dua-an siang. Kami pun larut kembali dengan pekerjaan kami.. Menjelang malam kami coba untuk aktifkan dekoder dan menyalakan tivi. Satu dari unit tv kami hanya dapat menerima siaran lokal, dan yang satu blank total. "Aneh ya, kata saya.. padahal tadi siang, dua-duanya bisa siaran lokal, sekarang malah nggak bisa." Belajar dari pengalaman, kamipun langsung menghubungi customer service. "Oke pak, nanti kami refresh".. gitu katanya. Kami di mintai macam-macam nomor serial yang tertera di belakang dekoder, kami beri. Setelah berkali-kali telpon (karena unit tv kita tidak dekat dengan unit telpon) jadi setiap ngecek kita harus matiin telpon dulu.. akhirnya kesimpulannya. Kita harus menunggu "Refreshhhhh" kembali.

Dan di tengah malam bolong, akhirnya ada juga siaran luar yang tertangkap di unit dekoder kita.. Alhamdulillah. Tapi kok dikit yah? acaranya.. hmm.. curiga.

Keesokan harinya kami kembali menelpon First Media. Tentunya dengan Customer Service yang lain lagi. Dan panjang lebar istri saya menceritakan kembali dari awal segala sesuatunya. Dan akhirnya sang Customer service memberi tahu kami bahwa kami di pasangi paket 33. "Ha? bagaimana bisa? wong kami setiap kami request minta yang paket 60an channel, kok bisa?" dan si CS pun ngotot karena yang di tulis di sistem adalah 33. Oke, akhirnyapun kami request kembali yang paket 60an channel tsb.

Dan happy ending, akhirnya kami dapat menikmati siaran kabelnya first media. Teknologi dekodernya memang cukup bagus karena kita dapet memilih-milih apa yang ingin kita tonton. Di televisinya bisa tertulis nama-nama acara yang akan di putar pada hari itu.

Lalu saya coba mengenang dan mengambil hikmah dari kejadian ini. Karena saya juga pernah menjadi customer service di bank sebelum saya jadi pengusaha. Idealnya buat saya untuk satu perusahaan adalah:

1 customer call = 1 request = 1 action => case closed.

pada kasus saya ini ada sedikit kemacetan di First media.

8 customer call = 8 requests = 1 month delay = 1 action => case closed.

saya buat perhitungan matematis, karena saya ingin menambah 4 unit lagi untuk bisnis saya.

berarti 8 x 4 = 32

32 customer call = 32 requests = 4 months delay = 1 action ??

gitu kira-kira? wih, berat juga rasanya jadi customer yang aktif kan?

moga-moga itu nggak terjadi. Yang saya pikir adalah gimana mengingkatkan ke-efektifan pelayanan pada perusahaan.. gimana ya? Komunikasi antar pegawai bukan hal yang mudah untuk di lakukan terutama kalau yang melayani pelanggan selalu berganti-ganti. Saya pun selalu coba memikirkan bagaimana si manajer customer service bisa mengawasi begitu banyak bawahannya dengan problemnya masing-masing. Ada orang bilang: "Satu pelanggan yang merasa tidak puas, dia akan bercerita ke 10 orang lainnya. Kalau ada satu pelanggan puas dia akan bercerita ke 10 orang lainnya juga"

Seharusnya ada sistem yang efektif.. ada sekarang sistem di komputer namanya CRM, (Customer Relationship Management) coba nanti kita bahas lagi lebih mendetail. Kali ini hanya curhatan positif aja dulu.. jangan berprasangka buruk dulu.. kali aja emang saya aja yang lagi sial. =) Gimana menurut anda?

Pulungan and Pulungan Tribal pages

Belum lama ini, kami the Pulungan-ers.. hehe bagi yang belum mengenal saya, ya saya kenalan dulu.. nama saya Irza Pulungan. Pulungan ini adalah marga, atau lebih di kenal dengan family name. Jadi ya bapak saya juga pulungan, kakek saya pun demikian. Pulungan berasal dari Mandailing, Sumatra.. alias Tapanuli selatan. Nah, entah dari mana orang-orang mandailing ini sangat kekeluargaan dan sangat mengenal silsilah, karena kami memiliki sistem Dalian NaTolu.. maaf, saya agak kurang pintar menjelaskan ini. Tapi yang jelas, hubungan-hubungan keluarga sangat di pahami dalam sistem ini.

Nah balik ke awal tadi lagi.. kami the Pulungan-ers membuat satu wadah yang bisa menjembatani antar keluarga Pulungan.. kami sebut perkumpulan ini 'Parsadaan Pulungan' artinya Persatuan Pulungan. Walaupun saya bukan orang yang pro dengan kesukuan tapi saya terima aja penunjukan saya menjadi bagian dari divisi kepemudaan dari kelompok ini.. (karena kayaknya saya yang paling muda.. hehe), Saya sebenarnya tidak mengedepankan suku sebagai pemersatu. Yang saya pernah pelajari.. hal-hal kesukuan gak akan jauh-jauh jalannya.. tapi biarlah, sekarang pikir positifnya aja.. Silaturrahmi antar keluarga lah yang di niat-kan.

Sekarang sudah di tentukan ketuanya, apa rencana kerjanya.. dll. nanti akan saya posting di lain waktu. Tapi sementara ini

Klik disini untuk melihat tarombo (silsilah) pulungan

kalau anda klik yang diatas ini, disitu sudah saya taruh silsilah dari keluarga saya.. Bapak sayalah yang sudah mengkompilasi silsilah ini menjadi sebuah paket data yang menakjubkan. Ribuan Nama sudah di urutkan menjadi sebuah pohon keluarga lengkap dengan ranting-rantingnya. Mungkin ada kesalahan sana-sana sini, tapi biarlah itu sementara, yang pasti sudah ada 597 nama pulungan lengkap dengan istri dan anak-anaknya. kalau anda bermarga Pulungan mungkin anda masih ada famili dengan saya.. hehe.. walaupun kita belum pernah bertemu. Terima kasih atas jasa Bapak saya yang telah memersatukan kita. Dan moga-moga juga saya dapat meneruskan pencatatan data ini, dan secara berangsur-angsur di perbaiki

Yang jelas saya lagi coba ngerapihin ini semua masuk kedalam program namanya: phpGedView, nanti caranya mungkin saya akan tulis di blog teknik saya. Jadi mungkin buat anda yang tertarik dengan silsilah keluarga anda, mulai deh mempelajari software-software gratis yang mungkin bisa mempersatukan keluarga anda.

Artikel menarik tentang Handphone anda

Seperti main roulette kata Carl,

apa itu? ya untung-untungan... sewaktu saya masih kecil, saya suka main RF, Ham Radio. Sering saya baca bahwa kita jangan berdiri atau memasang antena pemancar dekat dengan diri kita. Karena ada radiasi yang di pancarkan dari antena 2 meteran atau 11 meteran itu.

Sebenarnya, issue kanker dulu pernah diangkat sewaktu handphone masih tergolong baru, mungkin karena penelitian itu tidak terlampau dalam, heboh itu tidak terlampau lama dan akhirnya hilang di telan angin.

Gimana bisa bisnis kalau nggak ada handphone, susah sekali. Saya pun juga yang termasuk aktif menggunakan pesawat selular. Tampaknya dalam dekat ini belum ada yang bisa mengurangi pemakaian.. (walaupun pulsanya lebih mahal dari pesawat telpon rumah)

Tapi gini deh..

Silahkan baca artikel ini.

Mobile phones 'more dangerous than smoking' - Health News, Health & Wellbeing - The Independent

http://www.independent.co.uk/life-style/health-and-wellbeing/health-news/public-health-the-hidden-menace-of-mobile-phones-396225.html

Apakah benar? Saya sendiri belum mencoba mempelajari secara detail laporan yang di buat oleh Dr. Vini Khurana ini, tapi sepertinya dokter ini sangat meyakininya... dan tentunya para pelaku industri handphone berpendapat lain.

Mungkin ini saatnya lagi memakai kembali headset yang lebih sering mengganggu itu.

Pernyataan Finansial

Hal yang biasa terjadi di perusahaan baru adalah sulit mengambil keputusan, ada masalah bingung bangaimana memecahkannya, perasaan ingin maju dan ingin serba wah menjadi pembicaraan sehari-hari. Tentu saja ini terjadi, karena betapa susahnya memulai sebuah usaha. Lalu sekarang usaha sudah mulai jalan, omzet mulai berputar, kita di hadapkan dengan masalah-masalah lain.

Sebenarnya kita masih ada di sebuah jalan yang banyak batu-batu kerikilnya sehingga masalah kecil dan masalah besar bisa menghadang kita.

Banyak dari pengusaha menggunakan nalarnya dalam berbisnis, ini sah-sah saja. Tapi untuk orang yang masih baru dan masih kurang pengalaman, hanya dengan menggunakan nalar saja sangat beresiko. Sebenarnya masih ada perangkat yang bisa kita gunakan untuk membantu mengambil keputusan. Yaitu pernyataan finansial. Apalagi tuh pernyataan finansial. Sebenarnya itu terjemahannya financial statement.

Banyak orang keliru persepsi tentang pembukuan. Pembukuan memang dibutuhkan untuk mengingat-ingat kembali transaksi kita. Dan saya maklum sebagian besar menggunakan pembukuan hanya untuk hal tersebut saja. Pembukuan merupakan hal yang merepotkan dan susah, meski buat seorang akuntan yang sudah berpengalaman dan memang sudah belajar hal tersebut sejak lama.

Namun hal itu tidak terlampau susah di zaman sekarang, banyak perangkat lunak (software) yang dapat di gunakan untuk membantu kita menghitung angka-angka tersebut sekaligus melakukan pembukuan. Tapi toh itu hanya digunakan menampilkan angkanya. Tidak heran perusahaan-perusahaan ini walaupun menggunakan komputer, tetapi tetap saja tidak menggunakan data ini sebagai hal yang membantu membuat keputusan.

Bagaimana kita bereaksi terhadap angka, itulah yang utama.

ada cerita tentang perusahaan multi-million dollar bangkrut karena lupa pada prinsip utama ini.

  • setelah di teliti ternyata memang rasio hutang, pengembalian dan cashflow nya sudah lama tidak benar.
  • pembelian ke supplier cash, penjualan ke customer kredit tapi tidak ada monitoring rasio keduanya.
  • Piutang terlampau banyak dan macet.
  • Gaya marketing perusahaan terlampau mewah dan tidak sebanding dengan income.
  • Uang terlampau banyak tertanam di proyek "bergengsi"

Di tangan orang bisnis yang mempunyai pengalaman, financial statement dapat menjadi seperti "denyut jantung pasien di tangan dokter". Sang dokter dapat mengetahui sakit atau tidaknya pasien.

Disinilah fungsi utama financial statement itu. Mengetahui sehat atau tidaknya perusahaan. Inilah yang di perlukan dari business man. Tentunya kita semua ingin tahu berapa kita buat untung tahun ini, tapi bukan hanya itu.. Angka - angka itulah yang menuntun kita untuk membuat strategi dan taktik yang akan kita gunakan sekarang. Dan membaca biografi-biografi business man yang sukses, mereka adalah orang-orang yang langsung 'mengukir' financial statementnya. Mereka semua punya visi bagaimana financial statementnya. Dan mereka bereaksi dan ber'-AKSI terhadap financial statement secara aktif.

Jadi cobalah mulai semuanya di buat, neraca laba rugi, balance sheet, dan cash flow.. pasti mulai asik.

Buku menarik: how to read a financial report

 

salam angka,

Irza Pulungan

yang mulai tutup buku

Mission statement

Yeeha

Kadang kita terlalu ringan menilai visi dan misi dalam satu perusahaan, sepertinya tanpa statement yang harus di tulis, di ukir, toh perusahaan jalan kan?.. warung pinggir jalan toh bisa jadi bisnis tanpa harus punya visi dan misi.

Hal itulah yang paling sering saya temui, ketika membuat usaha baru atau project baru, jarang ada yang mau memikirkan, ada yang mau, tapi lebih banyak yang tidak.

Sebenarnya menetapkan misi dan visi ini seperti menentukan arah dan secara perlahan apa yang kita tetapkan itu akan membentuk jalan kita. Visi dan misi ini bisa di ibaratkan cita-cita.

Ketika saya kecil kayaknya banyak banget cita-citanya.. sepertinya setiap melihat pekerjaan yang menarik dan seru.. langsung pengen jadi seperti yang di lihat. Nonton ada pemadam kebakaran di TV langsung pengen jadi fireman, nonton film perang langsung pengen jadi pilot.

Tapi yang sebenarnya terjadi sampai perjalanan dari sma ke kuliah pun saya masih ragu dengan cita-cita saya sendiri, lebih tepatnya masih bingung apa yang benar-benar di inginkan. Waktu dan kehidupan pun lalu memolesnya ikut menentukan jalan kita dan membentuk semua cita-cita kita. Tapi benarkah itu? Seharusnya kah itu terjadi?

Waktu, fakta, dan kenyataan hidup tidak bisa di hindari, yang bisa kita setel adalah mindset kita. Memperkenalkan, mengembangkan thibbun nabawi dan mencoba mengangkatnya menjadi no. 1 adalah salah satu dari cita-cita saya sekarang, tapi kenyataannya jualan produknya lebih menguntungkan tanpa harus meluaskan ilmunya. Itu fakta sekarang yang ada.

Mudahnya ,ya.. cash tetap bisa muter tanpa harus repot-repot mengembangkan, meluaskan ilmu pengetahuan.. dll, dll.. Jualannya lebih keliatan profitnya. Nah kalo udah gitu gimana? Kalo visi misinya aja di rubah? Menjadi penjual yang terhebat, menjadi penyalur madu yang terhebat? ya sah-sah aja.. wong itu cita-citanya kok protes? emang salah kalo ada orang pengen jadi tukang sapu? asal halal aja kan gak papa.

Nah kalo udah gini sih menurut saya semuanya balik ke owner dari perusahaan itu. Kalau saya tanya ke pemilik bisnis lain biasanya mereka menjawab "ya.. lihat aja nanti arahnya kemana.", gimana mau mengarahkan karyawannya kalau ownernya aja nggak tau mau kemana. Yang megang kendali alias supirnya aja masih bingung mau kemana. Gimana mobilnya mau nyampai tujuan?

Coba lah mulai dari sekarang kita mantapkan kembali cita-cita kita, gambarkan secara mental di benak kita.. seperti apa arah yang kita inginkan.. apa yang ingin kita capai. Semakin jelas gambarnya sebenarnya semakin mudah jalannya karena arahnya yang sudah jelas. Semakin buram gambarnya, semakin kita harus bertanya kepada diri kita sendiri apa yang benar-benar kita inginkan. Nanti itu semua menentukan apa yang harus anda perbuat.

 

Ass.wr.wb

Irza,

yg bercita-cita mengembangkan thibbun nabawi di greenatura

Suka halaman ini?
Berbagilah dengan teman anda!
Facebook, Twitter, Google dan lain-lain.
Bookmark and Share